Monday, 30 September 2013

Infeksi dan Infestasi penyakit yang dalam daftar OIE, pada tahun 2013



Resolusi mengenai infeksi dan infestasi penyakit disahkan oleh Panitia dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh Komisi Daerah menginstruksikan Markas OIE untuk membuat daftar tunggal OIE mengenai penyakit hewan yang dilaporkan darat dan air untuk menggantikan  Daftar Internasional sebelumnya yaitu A dan B. Tujuan dalam menyusun satu daftar adalah sejalan dengan terminologi Perjanjian Sanitary Phytosanitary dan Organisasi Perdagangan Dunia, Dengan mengelompokkan penyakit sebagai bahaya spesifik dan memberikan semua penyakit yang tercantum dengan gelar yang sama penting dalam perdagangan internasional. Dalam rangka untuk membuat daftar tunggal penyakit dilaporkan , OIE kriteria yang ditetapkan untuk memeriksa dimasukkannya atau tidak dari penyakit tertentu dalam daftar tunggal OIE yang disetujui Mei 2004 ( penyakit hewan darat - penyakit hewan akuatik ). Pada tahun 2005 , Daftar tunggal pertama terdiri dari mantan daftar A dan B digunakan , dan pada tahun yang sama , Kelompok Ad Hoc pada penyakit dan patogen agen pemberitahuan diselenggarakan untuk memeriksa penyakit sesuai dengan kriteria yang diadopsi untuk penyakit daftar , dan mengusulkan daftar baru penyakit yang memenuhi kriteria yang mulai diberlakukan pada tahun 2006. Daftar ini ditinjau secara berkala dan dalam hal modifikasi yang diadopsi oleh Majelis Dunia Delegasi pada Sidang Umum tahunan , daftar baru mulai berlaku pada tanggal 1 Januari tahun berikutnya . berikut daftar penyakit infeksi menurut kategorinya :


Multiple species diseases, infections and infestations 
  • Anthrax
  • Aujeszky's disease
  • Bluetongue
  • Brucellosis (Brucella abortus)
  • Brucellosis (Brucella melitensis)
  • Brucellosis (Brucella suis)
  • Crimean Congo haemorrhagic fever
  • Echinococcosis/hydatidosis
  • Epizootic haemorrhagic disease
  • Equine encephalomyelitis (Eastern)
  • Foot and mouth disease
  • Heartwater
  • Japanese encephalitis
  • New world screwworm (Cochliomyia hominivorax)
  • Old world screwworm (Chrysomya bezziana)
  • Paratuberculosis
  • Q fever
  • Rabies
  • Rift Valley fever
  • Rinderpest
  • Surra (Trypanosoma evansi)
  • Trichinellosis
  • Tularemia
  • Vesicular stomatitis
  • West Nile fever
Cattle diseases and infections
  • Bovine anaplasmosis
  • Bovine babesiosis
  • Bovine genital campylobacteriosis
  • Bovine spongiform encephalopathy
  • Bovine tuberculosis
  • Bovine viral diarrhoea
  • Contagious bovine pleuropneumonia
  • Enzootic bovine leukosis
  • Haemorrhagic septicaemia
  • Infectious bovine rhinotracheitis/infectious pustular vulvovaginitis
  • Lumpy skin disease
  • Theileriosis
  • Trichomonosis
  • Trypanosomosis (tsetse-transmitted)
Sheep and goat diseases and infections

  • Caprine arthritis/encephalitis
  • Contagious agalactia
  • Contagious caprine pleuropneumonia
  • Enzootic abortion of ewes (ovine chlamydiosis)
  • Maedi-visna
  • Nairobi sheep disease
  • Ovine epididymitis (Brucella ovis)
  • Peste des petits ruminants
  • Salmonellosis (S. abortusovis)
  • Scrapie
  • Sheep pox and goat pox
Equine diseases and infections

  • African horse sickness
  • Contagious equine metritis
  • Dourine
  • Equine encephalomyelitis (Western)
  • Equine infectious anaemia
  • Equine influenza
  • Equine piroplasmosis
  • Equine rhinopneumonitis
  • Equine viral arteritis
  • Glanders
  • Venezuelan equine encephalomyelitis
Swine diseases and infections

  • African swine fever
  • Classical swine fever
  • Nipah virus encephalitis
  • Porcine cysticercosis
  • Porcine reproductive and respiratory syndrome
  • Swine vesicular disease
  • Transmissible gastroenteritis
Avian diseases and infections

  • Avian chlamydiosis
  • Avian infectious bronchitis
  • Avian infectious laryngotracheitis
  • Avian mycoplasmosis (Mycoplasma gallisepticum)
  • Avian mycoplasmosis (Mycoplasma synoviae)
  • Duck virus hepatitis
  • Fowl typhoid
  • Highly pathogenic avian influenza in birds and low pathogenic avian influenza in poultry as defined in Chapter 10.4. of the Terrestrial Animal Health Code.
  • Infectious bursal disease (Gumboro disease)
  • Newcastle disease
  • Pullorum disease
  • Turkey rhinotracheitis
Lagomorph diseases and infections

  • Myxomatosis
  • Rabbit haemorrhagic disease
Bee diseases, infections and infestations
  • Acarapisosis of honey bees
  • American foulbrood of honey bees
  • European foulbrood of honey bees
  • Small hive beetle (Aethina tumida)
  • Tropilaelaps of honey bees
  • Varroosis of honey bees
Fish diseases

  • Epizootic haematopoietic necrosis
  • Epizootic ulcerative syndrome
  • Infection with Gyrodactylus salaris
  • Infectious haematopoietic necrosis
  • Infectious salmon anaemia
  • Koi herpesvirus disease
  • Red sea bream iridoviral disease
  • Spring viraemia of carp
  • Viral haemorrhagic septicaemia
Mollusc diseases
  • Infection with abalone herpesvirus
  • Infection with Bonamia exitiosa
  • Infection with Bonamia ostreae
  • Infection with Marteilia refringens
  • Infection with Perkinsus marinus
  • Infection with Perkinsus olseni
  • Infection with Xenohaliotis californiensis
Crustacean diseases

  • Crayfish plague (Aphanomyces astaci)
  • Infectious hypodermal and haematopoietic necrosis
  • Infectious myonecrosis
  • Necrotising hepatopancreatitis
  • Taura syndrome
  • White spot disease
  • White tail disease
  • Yellowhead disease
Amphibians

  • Infection with Batrachochytrium dendrobatidis
  • Infection with ranavirus
Other diseases and infections

  • Camelpox
  • Leishmaniosis



Daftar penyakit akan diupdate oleh OIE setiap tahunnya. Hal ini berdasarkan bahaya dan kategori penyakit tersebut.

MEMBUAT PAKAN FERMENTASI SEBAGAI PAKAN ALTERNATIF TERNAK KAMBING ATAU DOMBA



Dulu peternak Indonesia selalu disibukkan untuk mencari rumput dan menggembalakan ternak mereka saja. Sehingga pendapatan mereka hanya sedikit dan menggantungkan hidupnya hanya dari dari hasil jual ternak itu saja. Sekarang sudah banyak beternak kambing tanpa ngarit, tanpa angon, tanpa bau dan rendah kolesterol sehingga aman dikonsumsi oleh penderita darah tinggi, kolesterol tinggi dan lainnya.
Beberapa bulan lalu ketika cara ini di terapkan banyak orang yang merasa heran Mengapa kambing bukannya diberi makan rumput tetapi malah dikasih limbah yang berupa kulit kacang hijau, kulit jagung, kedebok pisang dan ditambah katul sedikit. Ada beberapa orang yang merasa kasihan kepada kambing tersebut kemudian dicarikan rumput dibelakang rumah untuk pakannya. Ketika aku tahu kejadian itu, maka mereka saya beri tahu, bahwa kambing itu sengaja di beri pakan limbah yang sudah di fermentasi selama 24 jam kemudian bisa diberikan untuk selamanya, selama persediaan masih cukup asalkan tidak kena sinar matahari langsung dan tidak terkena hujan fermentasi tersebut masih baik buat pakan kambing.
Setelah mereka tahu kemudian selanjutnya ikut mengamati perkembangan setiap harinya , mereka sepertinya heran kenapa hanya diberi pakan seperti itu, tanpa di kasih rumput segar ternyata perkembangannya sangat cepat besar dan sehat. Lebih heran lagi ternyata kotoran dan urinnya tidak bau sama sekali, dan inilah yang sangat di harapkan oleh para peternak kambing.
Bahkan beberapa peternak juga saya ajak ke tempat peternak yang lainnya untuk melihat hasil penyembelihan kambing yang sudah mengikuti cara tersebut, ternyata lemaknya hanya sedikit sekali, Kata orang yang ikut memotong daging kambing tersebut lemaknya hanya ada di sekitar ekor saja.
Menurut salah satu peternak, cara membuat pakan alternatif  dilakukan dengan  membuat pakan sekaligus dalam jumlah banyak sehingga ketersediaannya cukup untuk beberapa minggu. Tentu pemilihan tehnologi dan bahannya menjadi syarat utama.

FERMANTASI
Tehnologi fermentasi pakan bisa menjadi pilihan mudah. Alasannya, bahan baku bisa dari berbagai daun dan jenis rumput kering atau limbah pengolahan kedelai (menjadi tahu atau tempe). Bisa juga dari gedebok pisang ditambah bekatul. Semua bahan itu dicampur lalu difermentasi selama minimal 3×24 jam. Hasilnya adalah makanan ternak  fermentasi yang lebih awet dengan bau khas dan kandungan karbohidrat, protein dan vitamin cukup stabil.
Pemberian pakan secara teratur dengan jumlah seimbang antara berat pakan dan berat hewan membuat hewan ternak menjadi terpelihara secara lebih baik. Masalahnya adalah bagaimana membuat pakan ternak dari bahan seadanya seperti tersebut di atas secara cepat, banyak dan berkelanjutan sampai usia ternak mencukupi sesuai harapan baik untuk dijual maupun untuk bibit.
Mau tau cara buat pakan ternak fermentasi ini?

MEMBUAT PAKAN FERMENTASI
Cara  yang relatif murah, praktis dan hasilnya sangat disukai ternak adalah fermentasi dengan  menambahkan bahan mengandung mikroba proteolitik, lignolitik, selulolitik, lipolitik dan bersifat fiksasi nitrogen non simbiotik (contohnya: starbio, starbioplus, EM-4 dan lain-lain).

CARA KE I
BAHAN DAN UKURAN:
  • 1000 Kg : jerami padi atau jerami jagung atau jerami kedelai (titen Jawa)
  • 20-25 Lt : tetes bila tidak ada dapat diganti gula
  • 6-7 Lt : STARBIO, bila di daerah belum ada dapat diganti dengan EM4.
  • 5-6 Kg : Urea untuk menambah kandungan protein makanan
  • 250-300 Lt. : Air untuk melarutkan starbiodan tetes/15Lt untuk jerami basah
PERALATAN:
  • Silo tempat untuk fermentasi dapat berupa tembok semen, bis semen, drum sesuai kemampuan dan jumlah ternak
  • Alat pemotong sabit atau sejenisnya
  • Ember atau timba, gembor, terpal plastik atau karung plastik
CARA MEMBUAT
  1. Sediakan silo dari bis beton disusun dua atau tiga, bila memakai drum bagian dalam supaya dicat agar tidak berkarat
  2. Jerami kering atau bahan-bahan kering yang telah ada dipotong-potong dengan ukuran kurang lebih 25 cm sejumlah isi silo yang ada
  3. Larutkan tetes dan urea serta Satarbio dengan air menjadi satu sesuai perbandingan bahan-bahan di atas.
  4. Siapkan terpal plastik untuk alas menjcampur antara jerami dengan campuran tets starbio dan air.
  5. Jerami yang sudah dipotong ditaruh di atas terpal sedikit demi sedikit sambil disiram larutan air tetes dan starbio sesuai perbandingan di atas sampai merata dan jerami kelihatan basah.
  6. Setelah jarami benar-benar telah disiram rata dengan larutan tersebut, jerami dimasukkan ke dalam silo sedikit demi sedikit sambil dimampatkan/diinjak-injak supaya padat.
  7. Setelah mampat (padat) silo ditutup hingga rapat betul
  8. Setelah 7 hari jerami tersebut baru dapat mulai diberikan pada ternak sesuai dengan kebutuhan dan selama bahan tersebut belum habis setelah mengambil bahan dari silo supaya ditutup kembali dengan rapat
  9. Penempatan silo supaya terhindar dari genangan air, terhindar dariterik matahari dan air hujan tidak boleh masuk ke dalam silo
CARA MEMBERIKAN:
  • Pemberian diberikan dua kali pagi dan sore dengan ukuran: boot kambing x 3% pakan kering (jerami yang telah difermentasi)
  • Ditambah makan tambahan berupa katul yang baik (kualitas I) sebanyak 0,5 kg/ekor
KETERANGAN:
  • Apabila waktu petama kali tenak diberi pakan tersebut tidak langsung mau supaya dilatiih sedikit demi sedikit sampai mau makan dengan lahap
  • Agar ternak cepat gemuk perlu diberi makan lain yang kadar proteinnya tinggi seperti pemberian katul konsentrat
  • Air minum supaya tetap tersedia (jangan sampai telat)
SOC atau Suplemen Organik Cair merupakan suplemen khusus dari Kami untuk menyehatkan binatang ternak Anda. Dengan SOC, Anda dapat menekan pengeluaran selama produksi dan perawatan. SOC membantu mengurangi tingkat stres pada hewan dan menekan timbulnya penyakit pada ternak Anda dan mengurangi angka resiko kematian di hewan ternak.  SOC membantu hewan ternak Anda untuk meningkatkan antibodi, sehingga hewan ternak tidak mudah sakit.
SOC merupakan suplemen terbaik saat ini.  Mempercepat pertumbuhan hewan ternak dan meningkatkan produksi daging, sebab SOC memberikan efek merangsang nafsu makan pada hewan ternak.  Selain produksi daging, SOC juga baik untuk perkembangbiakan. SOC membantu meningkatkan kesuburan pada hewan, sehingga SOC dapat mempertinggi kualitas telur pada hewan unggas, maupun perkembangbiakan hewan ternak lain seperti kambing dan sapi.span>
SOC Dapat pula membuat Fermentasi Jerami, Kedebog,dll sehingga Pakan bisa bertahan lama untuk pakan Hewan. Sehingga kita tidak perlu ngarit setiap saat dan tidak perlu angon. SOC terbukti menghilangkan Bau Kotoran, dengan Pola HCS menggunakan SOC kenaikan bobot kambing 2,5kg/Minggu.